Lab Komputer 3 menit baca

Port switch tidak cukup untuk PC lab

Port switch di lab saya habis, sementara masih ada PC yang tidak terjangkau kabel. Saya sisihkan satu port untuk access point dan menyambungkan PC itu lewat wi-fi. Ini langkah, pilihan lain, dan batasannya.

Diuji 20 Oktober 2026 evergreen

Port switch di lab saya tidak cukup untuk semua PC. Jumlah port di kotak switch tidak cukup: 60 PC harus berbagi 48 port, dan satu port sudah terpakai untuk uplink ke router. Sisanya jelas kurang.

Beberapa PC juga tidak mungkin diberi kabel LAN karena tidak port yang kosong. Daripada menunggu membeli switch baru, saya sisihkan satu port untuk access point (AP) dan menyambungkan PC yang tidak kebagian kabel lewat AP itu.

Catatan ini menjelaskan pilihan yang saya timbang, cara mengatur AP agar tidak merusak jaringan lab, dan batasan yang perlu Anda ketahui sebelum meniru.

Tiga pilihan yang saya timbang

Ada tiga jalan keluar ketika port switch habis. Masing-masing punya harga yang berbeda.

PilihanKelebihanKekurangan
Tambah switch kecil (uplink ke switch lama)Tetap berkabel, stabil, murah untuk switch 5 atau 8 port tanpa manajemenPerlu tempat, listrik, dan kabel ke lokasi switch baru; satu port lama terpakai sebagai uplink
Tarik kabel langsung ke tiap PCPaling stabil dan paling cepatPerlu jalur kabel; kerja fisik paling berat jika PC jauh
Pasang access point di satu portHanya satu kabel; PC yang jauh tidak perlu ditarik kabelWi-Fi kurang stabil dibanding kabel; kapasitas AP dibagi ke semua PC yang tersambung; PC desktop biasanya butuh adaptor Wi-Fi

Secara umum, menambah switch adalah perbaikan yang paling bersih bila kabel bisa sampai. Access point masuk akal ketika kabel tidak bisa sampai atau ketika PC yang tersisa sedikit.

Cara saya memasang AP di satu port switch

Intinya: AP hanya menyambung kabel ke Wi-Fi, sedangkan pembagian alamat IP tetap dikerjakan router utama. Kalau AP ikut membagi IP, dua pembagi akan bertabrakan dan PC bisa kehilangan internet.

  1. Pilih satu port switch yang kosong dan sambungkan ke AP dengan kabel LAN. Bila AP Anda sebenarnya router bekas, pakai port LAN-nya, bukan port WAN atau Internet.
  2. Buka halaman pengaturan AP dari satu PC yang masih berkabel. Matikan DHCP server di AP. Pada beberapa merek ada pilihan mode Access Point atau Bridge yang melakukannya otomatis; nama menunya berbeda tiap merek.
  3. Beri AP alamat IP tetap di jaringan yang sama dengan router utama, di luar rentang DHCP. Contoh: router di 192.168.1.1, AP di 192.168.1.2. Alamat ini hanya contoh; sesuaikan dengan jaringan lab Anda.
  4. Atur nama Wi-Fi (SSID) dan kata sandi WPA2 atau WPA3. Ganti juga kata sandi admin bawaan AP.
  5. Pasang adaptor Wi-Fi (USB atau kartu PCIe) pada PC desktop yang belum punya Wi-Fi, lalu sambungkan ke SSID tadi.
  6. Periksa dari PC yang tersambung ke AP: alamatnya harus berasal dari router utama, bukan dari AP.
ipconfig
ping 192.168.1.1

Pada hasil ipconfig, Default Gateway harus sama dengan alamat router utama. Bila yang muncul alamat AP, DHCP di AP belum mati.

Catatan: bila PC yang tersambung ke AP justru bisa ditempelkan kabel ke port LAN di AP itu sendiri, port tersebut berfungsi seperti switch kecil.

Hasil dan batasannya

Sebelum meniru, ingat batasan berikut:

  • Wi-Fi tidak sestabil kabel. Kapasitas satu AP dibagi ke semua PC yang tersambung, jadi unduhan besar di beberapa PC sekaligus akan terasa.
  • AP menjadi satu titik gagal. Bila AP mati, semua PC yang bergantung padanya putus.
  • PC untuk ujian sebaiknya tetap berkabel bila memungkinkan. Kalau terpaksa memakai Wi-Fi, ujilah lebih dulu dalam kondisi semua PC menyala bersamaan, jangan langsung di hari pelaksanaan.
  • Amankan AP: kata sandi Wi-Fi yang kuat, kata sandi admin yang diganti, dan jangan biarkan SSID terbuka tanpa sandi di lingkungan sekolah.

Kalau PC yang tersisa makin banyak, tambahkan switch kecil. AP paling cocok sebagai solusi untuk beberapa PC yang kabelnya memang sulit dijangkau.

Tinggalkan komentar