Skip to content
Lihat di aplikasi

Cara yang lebih baik untuk menjelajah. Pelajari lebih lanjut.

Lalu

Aplikasi layar penuh di layar beranda Anda dengan pemberitahuan, lencana, dan banyak lagi.

Untuk menginstal aplikasi ini di iOS dan iPadOS
  1. Ketuk ikon Berbagi di Safari
  2. Gulir menu dan ketuk Tambahkan ke Layar Utama.
  3. Ketuk Tambah di sudut kanan atas.
Untuk menginstal aplikasi ini di Android
  1. Ketuk menu 3 titik (⋮) di sudut kanan atas browser.
  2. Ketuk Tambahkan ke Layar Beranda atau Instal aplikasi.
  3. Konfirmasikan dengan mengetuk Instal.

Saya masih agak bingung, apa sih perbedaan oogenesis dan spermatogenesis?

Untai diskusi ini berisi 28 postingan dengan perkiraan lama baca 21 menit.

Featured Replies

  • Administrators

Halo @Natasya Lumbato dan @Jian Nisa Ahmad ! Diskusi kalian sangat runtut dan mudah dipahami. Ini salah satu thread yang enak dibaca karena alurnya mengalir secara logis. Beberapa catatan dari saya:

Pernyataan "Oogenesis dimulai sejak dalam kandungan" perlu diperjelas. Pernyataan ini benar, tetapi bisa membingungkan jika tidak dilengkapi. Yang lebih tepat adalah:

  • Oogenesis dimulai saat janin perempuan masih dalam kandungan, tepatnya pada fase oogonium → oosit primer, lalu berhenti (arrested) pada profase meiosis I.

  • Proses ini baru berlanjut saat pubertas, dan baru benar-benar selesai saat terjadi fertilisasi (meiosis II tuntas).

Jadi oogenesis bukan sekadar "berlangsung bertahap", melainkan memang terjeda dalam waktu yang sangat lama — bisa belasan hingga puluhan tahun.

Selanjutnya pernytaan "Sel telur matang satu setiap siklus menstruasi" — perlu sedikit koreksi.

Pernyataan ini umumnya benar, namun lebih tepatnya yang terjadi setiap siklus adalah ovulasi — pelepasan satu oosit sekunder dari ovarium. Sel telur baru benar-benar matang penuh (menjadi ovum) setelah dibuahi sperma, karena meiosis II baru tuntas saat fertilisasi terjadi. Jadi secara teknis, yang dilepaskan tiap siklus bukanlah "sel telur matang" melainkan oosit sekunder.


Halo @Moh Rhezaldi Dg Matorang dan @Ahmad Khanzalah ! Topik kalian saya gabung dengan topiknya Jian dan Tasya karena topiknya sama.

Ada beberapa koreksi untuk kalian.

1. Istilah "membuang materi genetik" pada badan kutub ( @Ahmad Khanzalah )

Pernyataan bahwa oogenesis "membuang materi genetik berupa badan kutub" perlu dikoreksi. Badan kutub (polar body) memang mengandung materi genetik, tetapi istilah "membuang" kurang tepat secara konsep. Yang terjadi adalah pembagian sitoplasma yang tidak merata agar sel telur mendapatkan cadangan nutrisi yang maksimal. Badan kutub umumnya mengalami degenerasi, bukan sekadar "dibuang".

2. Poin kegunaan spermatogenesis "agar saat bertelur jumlahnya kembali normal" (@Ahmad Khanzalah )

"Menjaga jumlah kromosom tetap stabil (menjadi setengah atau haploid) agar saat bertelur jumlahnya kembali normal."

Kata "bertelur" di sini tidak tepat. Yang dimaksud adalah saat fertilisasi (pembuahan), yaitu ketika sperma (haploid) bertemu sel telur (haploid) sehingga zigot yang terbentuk kembali menjadi diploid. Istilah "bertelur" merujuk pada proses ovipar yang berbeda konteksnya.

3. Penjelasan pembuahan sel telur kurang lengkap, ( @Ahmad Khanzalah )

Penjelasan tentang cara pembuahan sudah cukup baik untuk pengantar, namun ada satu langkah penting yang terlewat, yaitu reaksi akrosom, di mana sperma melepaskan enzim dari bagian akrosom-nya untuk membantu menembus zona pelusida (lapisan pelindung sel telur). Selain itu, setelah satu sperma berhasil masuk, terjadi reaksi korteks yang mencegah sperma lain ikut masuk — mekanisme ini disebut polyspermy block dan cukup penting untuk disebutkan.

4. Diskusi berjalan satu arah

Terlihat @Moh Rhezaldi Dg Matorang hanya bertanya dan @Ahmad Khanzalah yang menjawab. Tidak ada yang salah, namun akan lebih baik jika Aldi juga mencoba menjawab terlebih dahulu sebelum dikoreksi, agar diskusi lebih interaktif dan pemahaman lebih terbangun.

Silakan masuk untuk memberi komentar

Anda dapat berkomentar setelah masuk.

Masuk Sekarang

Account

Navigation

Cari

Cari

Configure browser push notifications

Chrome (Android)
  1. Tap the lock icon next to the address bar.
  2. Tap Permissions → Notifications.
  3. Adjust your preference.
Chrome (Desktop)
  1. Click the padlock icon in the address bar.
  2. Select Site settings.
  3. Find Notifications and adjust your preference.