Apakah Saya Vibe Coding? Pengalaman Jujur Membuat Produk Digital dengan AI
Ya, boleh dibilang begitu. Bagi yang belum familier, vibe coding adalah praktik menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan baris kode hanya melalui instruksi teks (prompt), tanpa harus memiliki pemahaman pemrograman yang mendalam.
Anda bisa membaca ulasan mengenai topik ini lebih panjang pada artikel sebelumnya: Vibe Coding: Ilusi Produktivitas yang Menguras Waktu dan Biaya.
Dulu saya sempat belajar koding dan sampai sekarang pun masih terus belajar. Sebagian besar yang saya pelajari adalah HTML dan CSS untuk keperluan kustomisasi template Blogger. Saya juga sempat mengikuti sedikit kursus JavaScript dan PHP. Saya katakan "sedikit" karena waktu itu saya kesulitan mengikuti penjelasan tutor yang terlalu cepat, sehingga akhirnya memutuskan berhenti di tengah jalan.
Meskipun penguasaan saya terhadap keempat bahasa tersebut masih terbatas, bekal dasar ini ternyata sangat membantu saat membuat produk digital bersama AI. Setidaknya, saya cukup memahami struktur produk yang dihasilkan. Misalnya saat merombak template Blogger, saya bisa langsung mengenali jika ada tampilan yang menyimpang dan menebak bagian kode mana yang menjadi penyebabnya.
Saya juga bisa mengoreksi hasil kerja AI menggunakan istilah teknis agar perbaikannya lebih presisi. Sebagai contoh, alih-alih memberi perintah "samarkan ikonnya", saya akan meminta AI untuk mengatur opacity menjadi 16%. Daripada mengatakan "geser agak ke kanan", saya langsung menginstruksikan untuk menambahkan padding-left: 50px. Walaupun AI sekarang semakin cerdas dan tetap paham saat diperintah dengan bahasa awam seperti "kaburkan ikonnya", penggunaan istilah teknis membuat proses debugging dan revisi jauh lebih cepat serta akurat.
Saya merasa beruntung dulu pernah mempelajari dasar-dasar koding. Rasanya pasti sangat berat dan membingungkan jika harus meminta AI membuat tema, plugin, atau aplikasi web dari nol tanpa memahami logika koding sedikit pun. Tanpa pemahaman dasar, kita hanya akan menebak-nebak dalam gelap saat kode yang diberikan AI tiba-tiba error.
Lalu, apakah vibe coding itu salah? Tidak sama sekali, asalkan produk yang kita buat ditujukan untuk keperluan pribadi, media belajar, atau sekadar eksperimen. Namun, ceritanya akan sangat berbeda jika produk hasil vibe coding tersebut langsung dilepas ke pasar sebagai aplikasi komersial. Risikonya sangat besar. Tanpa pemahaman arsitektur kode yang kuat, Anda akan kewalahan menghadapi pemeliharaan sistem (maintenance), perbaikan bug, hingga celah keamanan fatal seperti kebocoran data atau kredensial pengguna.
Pengecualian mungkin berlaku untuk produk digital yang sifatnya lebih "kosmetik" atau berada di lapisan antarmuka (front-end), seperti tema atau template Blogger. Produk semacam ini relatif aman meskipun dirilis ke publik atau dijual. Alasannya sederhana: template Blogger hanya mengatur tampilan dekoratif di sisi pengguna, sementara seluruh infrastruktur server, database, dan keamanannya dikelola penuh oleh sistem Google. Sekalipun ada cacat pada kode template yang kita buat, orang luar tetap tidak bisa menyusup ke dalam server atau hosting Blogger untuk mencuri data di dalamnya.
Pada akhirnya, AI memang mempermudah siapa saja untuk menciptakan produk digital. Namun, memiliki sedikit bekal koding di tangan akan mengubah posisi kita—dari yang semula hanya pasrah menerima hasil dari AI, menjadi seorang pengarah yang tahu persis bagaimana memperbaiki dan menyempurnakan karyanya.
Recommended Comments