Skip to content
View in the app

A better way to browse. Learn more.

Lalu Pro

A full-screen app on your home screen with push notifications, badges and more.

To install this app on iOS and iPadOS
  1. Tap the Share icon in Safari
  2. Scroll the menu and tap Add to Home Screen.
  3. Tap Add in the top-right corner.
To install this app on Android
  1. Tap the 3-dot menu (⋮) in the top-right corner of the browser.
  2. Tap Add to Home screen or Install app.
  3. Confirm by tapping Install.

Miftah

Members
  • Joined

  • Last visited

  1. Setuju dengan analogi Erste, tapi menurut saya perannya bakal bergeser dari "tempat orang mencari info" jadi "tempat orang mencari sumber yang bisa dipercaya". Kalau AI Overview dan semacamnya makin mendominasi hasil pencarian instan, blog justru bisa jadi penanda kredibilitas, semacam tanda tangan asli di tengah banjir konten hasil rangkuman. Menariknya, ini bisa mengubah cara orang menulis blog juga: bukan lagi mengejar keyword volume tinggi, tapi membangun reputasi personal yang sulit ditiru mesin. Jadi mungkin bukan blog yang mati, tapi model lama "blogging untuk trafik cepat" yang perlahan ditinggalkan.
  2. Betul sekali dugaannya, kombinasi. Setelah ditelusuri, ternyata ketemunya di poin 1 dan 3 sekaligus, bukan 1 dan 2 seperti tebakan awal saya sendiri. Tag noindex memang ketinggalan dari staging, tapi robots.txt-nya sebenarnya sudah bersih, tidak ada blokir apa-apa. Yang bikin makin runyam, karena noindex-nya terpasang, dia juga tidak pernah kepikiran submit sitemap, mikirnya "ah nanti juga keindeks sendiri kalau sudah bener". Jadi dua masalah itu saling menutupi satu sama lain, noindex bikin halaman ditolak walau sempat dicrawl, sementara sitemap yang absen bikin proses discovery-nya juga lambat dari awal. Yang menarik, waktu pertama cek Search Console, statusnya bukan "not found" tapi "crawled - currently not indexed", itu yang bikin agak muter dulu curiganya karena sepintas kelihatan robots.txt yang jadi biang keladi, padahal Googlebot sebenarnya sudah masuk, cuma dilarang nampilin hasil crawlnya. Baru ketauan pas cek langsung page source dan nemu meta tag noindex nongol di head. Soal kecurigaan Mas ke arah reciprocal hreflang tadi juga menarik, karena itu jenis kesalahan yang secara teknis situs "sehat-sehat saja" tapi hasilnya tetap kacau di pencarian. Mungkin bisa jadi topik terpisah, soal kesalahan yang lolos dari audit teknis biasa karena tidak muncul sebagai error yang jelas, cuma bikin performa aneh tanpa alasan yang kelihatan.
  3. Ini cerita teman yang bantu temannya yang bingung kenapa website barunya tidak muncul-muncul di Google, padahal sudah jalan lebih dari sebulan. Setelah dicek satu-satu, ternyata bukan soal "Google-nya lambat", tapi ada beberapa kesalahan dasar yang kebanyakan orang tidak sadar. Semua poin di bawah saya lampirkan dokumentasi resmi Google Search Central-nya, supaya tidak dianggapn sekadar opini SEO. 1. Noindex tag ketinggalan dari mode development Paling sering kejadian. Waktu bikin website di staging/dev, banyak yang kasih tag noindex dengan maksud mencegah crawl. Setelah go-live, tag itu lupa dicopot — dan Google manut saja, karena tag ini memang berfungsi menyuruh crawler untuk tidak menampilkan halaman itu di hasil pencarian. Sumber: Google Search Central — Robots meta tag specifications 2. Robots.txt masih blokir crawler Beberapa CMS/tema default mem-block seluruh direktori waktu instalasi awal. Google sendiri menegaskan robots.txt itu fungsinya mengatur crawling traffic, bukan cara resmi untuk "menyembunyikan" halaman — tapi kalau di-disallow total, ya Googlebot tidak bisa masuk sama sekali. Sumber: Google Search Central — Introduction to robots.txt 3. Belum submit sitemap & verifikasi Search Console Sitemap bikin Google lebih cepat menemukan halaman-halaman di situs kamu, terutama untuk domain baru yang belum punya banyak link masuk. Sumber: Google Search Central — Build and submit a sitemap 4. Nol internal link, nol backlink Googlebot menemukan halaman lewat link, baik dari luar maupun dari dalam situs sendiri. Google merekomendasikan struktur link internal yang jelas agar crawler (dan user) bisa memahami hierarki serta relevansi tiap halaman. Sumber: Google Search Central — Crawlable links 5. Konten tipis atau AI mentah tanpa polesan Google tidak melarang AI, tapi tegas soal scaled content abuse — memublikasikan banyak halaman (termasuk hasil AI) dengan tujuan utama memanipulasi ranking adalah pelanggaran kebijakan spam mereka, dan bisa berujung halaman di-demote atau dihapus dari index. Sumber: Google Search Central — Spam policies | Blog resmi: Google Search's guidance about AI-generated content 6. Konten utama baru muncul setelah JavaScript jalan Kalau situs heavy pakai framework JS dan konten utama di-render client-side, ada risiko Googlebot gagal menangkap isi sebenarnya kalau proses rendering-nya bermasalah. Sumber: Google Search Central — JavaScript SEO basics 7. Crawl budget terbuang ke halaman sampah Banyak halaman hasil filter, tag, pagination, atau parameter URL bikin Googlebot menghabiskan waktu di halaman yang tidK penting sebelum sempat sampai ke halaman utama. Sumber: Google Search Central — Large site owner's guide to managing crawl budget Kalau ada yang pernah MENGALAMI penyebab lain di luar 7 ini, sulahkan ditambahkan — makin banyak studi kasus, makin membantu yang struggle dengan masalah serupa. 🙏

Account

Navigation

Search

Search

Configure browser push notifications

Chrome (Android)
  1. Tap the lock icon next to the address bar.
  2. Tap Permissions → Notifications.
  3. Adjust your preference.
Chrome (Desktop)
  1. Click the padlock icon in the address bar.
  2. Select Site settings.
  3. Find Notifications and adjust your preference.